Spekulasi Memilih Merpati Tinggian

https://www.facebook.com/Merpati.Balap.Indonesia




Bentuk Kepala
Pilih burung yang mempunyai kepala besar dan dengan batok kepala depan lebih tinggi dari batok kepala belakang “nonong”, tapi pilih yang mempunyai derajat kemiringan antara pangkal hidung dengan atas batok kepala sebesar 45-60, jangan yang memiliki derajat kemiringan 90, karena biasanya bentuk kepala seperti ini dimiliki oleh burung yang hanya bagus turun atas kepala “tengah” (arah jam12.00). berbeda dengan yang mempunyai kemiringan 45-60, tipe kepala seperti ini kan OK turun dari arah manapun. selain itu biasanya burung dengan bentuk kepala seperti ini lebih cerdas ( mengingat untuk merpati tinggian sangat diperlukan feeling yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi )


Bentuk paruh
Pilih paruh yang berbentuk “merit” (runcing pada ujungnya), tidak terlalu besar & tidak terlalu panjang. Pilih yang mempunyai panjang dari ujung hidung sampai ujung paruh berjarak sedikit lebih pendek dari jarak pangkal hidung sampai batok kepala depan teratas.
Mata

Mata sebagai senjata utama bagi merpati untuk menemukan gerakan tentu tidak akan kita abaikan dalam hal pemilihannya. Pilih mata yang mempunyai pupil (bijih mata) berwarna hitam pekat dan responsif terhadap cahaya (akan membesar dan mengecil dengan cepat saat menerima perubahan rangsangan cahaya). Pilih juga yang mempunyai cincin lingkar menempel pada bijih mata (biasanya berwarna hijau) 1/4 keliling bijih mata menggantung di depan bawah. Sedangkan untuk warna mata, pilih yang mempunyai dua warna mata, biasanya perpaduan antara kuning tua dengan kuning muda, merah tua dengan hijau tua, atau merah muda dengan putih. Pilih yang mempunyai warna tengah lebih tenggelam dari warna luarnya, sehingga akan terlihat jelas perbedaan antara keduanya (bila mata burung kita lihat pada tempat yang teduh / tidak terkena cahaya langsung). jika mata burung kita lihat pada saat terkena sinar matahari langsung, maka kedua warna mata akan bergabung dan tampak seperti titik2 warna yang menyatu.

Hidung
Kalau didaerah saya oleh sebagian teman, keadaan, bentuk, besar dan kecilnya hidung tidaklah pernah digubris, akan tetapi tidaklah sependapat dengan yang akan saya sampaikan karena menurut pengalaman berbagai bentuk hidung mempunyai kelebihan dan kelemahan. 

Menurut saya hidung juga berperan untuk merpati menemukan jalan pulangnya (disamping feelingnya), beberapa hidung favorit saya : 
  1. besar, panjang, menggembung (bukan “prambon” turunan dari merpati pos), saya suka dengan hidung berbentuk seperti ini bila mempunyai warna kapur pekat dan pangkal hidung bagian bawah menjorok kebelakang. 
  2. besar, panjang, “trepes” melekat ke paruh (jika burung ini “prambon”), saya suka hidung berbentuk seperti ini jika memiliki warna kapur pekat akan tetapi terlihat garis2 samar sejajar berwarna kemerah2an diseluruh bagian hidungnya dan pangkal hidung bagian bawah menjorok kebelakang. 
  3. kecil, menggembung (strain jawa, baik jawa sungut ataupun jawa deles), saya suka dengan hidung berbentuk ini bila mempunyai warna kapur pekat dan pangkal hidung bagian bawah menjorok kebelakang. Adapun bila pada pangkal hidung berbentuk lurus, saya suka burung ini untuk “gaburan” bermain dirumah, biasanya burung tidak membutuhkan jarak jauh2 untuk bisa terbang tinggi yang penting pemilihan mitra terbang yang imbang dan sepadan ( justru bila burung dengan tipe hidung seperti ini akan pulang lama bila dilepas jauh, bahkan kadang hilang).

Leher
sampai saat ini saya masih berpendapat bahwa leher adalah sarana utama bagi burung merpati untuk “metil”/”njungkel”/”nunjem”/”nenggel”/”thel”. pilih leher yang kuat dan jangan terlalu panjang, pilih panjang leher yang sedikit lebih pendek dari tulang dadanya. Pilih juga tulang leher yg kuat, tegak, kencang dan mendongak keatas (saat burung memperhatikan sesuatu, biasanya gerakan) akan tetapi akan kembali mengendur / menekuk seperti semula. karena leher yg selalu tegak terkesan kaku dan kualitas “metil” kalah fleksibel dibanding dengan tipe tulang leher yang tadi saya sebutkan.

Sayap
sayap sebagai sarana utama burung untuk terbang hendaknya kita harus benar2 memilihnya yg terbaik, beberapa contoh :
  1. bahu sayap harus kuat dan lentur / jangan kaku, untuk bentuk bisa bervariasi, ada yg tebal bulat, pendek berotot. ada juga yg berbentuk pipih, lebar berotot. 
  2. bulu sayap tebal kencang tidak bergelombang. pilih juga yang lebar (landung) rapat jarak satu bulu dengan yang lainnya. ujung bulu meruncing.
  3. tulang bulu sayap besar kuat sedikit lentur pada ujung bulunya
Pilih juga yang memiliki sayap sedikit terlihat “mekongkong” saat dipegang. jangan yang memiliki sayap merapat ke badan, karena kualitas turunnya akan lebih kencang yang mempunyai sayap agak “mekongkong”.

https://www.facebook.com/Merpati.Balap.Indonesia

Bentuk dada
Pilih bentuk dada yang berbentuk huruf V (kalau dilihat dari depan), jangan yang berbentuk O, apalagi elip mendatar / gepeng. Burung dengan bentuk dada berhuruf V biasanya akan turun kencang dari arah manapun berbeda dengan yang berbentuk huruf O ( hanya bagus turun atas kepala/jam12.00) karena kalau turun agak condong biasanya kecepatan turun burung berbentuk dada seperti ini akan berkurang.

Tulang Dada
Pilih tulang dada yang mempunyai panjang sedikit lebih panjang dari telunjuk orang dewasa, atau paling tidak sama panjang. Masalah bentuk saya punya pengalaman seperti ini:
  1. berbentuk seperti tanda ‘centang’ : dengan tulang dada belakang menjorok kebelakang, biasanya burung jadi berbentuk jantung. Burung dengan type tulang dada seperti ini dengan perangkat lain yang memadai biasanya akan turun anteng / tidak goyang. 
  2. berbentuk seperti perahu : dengan perangkat lain yang memadai dan “cekelan”padat berisi, burung akan turun sambil “nggenjot-nggenjot”
Sapit Udang
Ada yang berpendapat bahwa kondisi, ukuran jarak dan bentuk “sapit urang” pada burung merpati tidak mempengaruhi gaya terbang dan turunnya, kalau dari pengalaman saya pribadi, bila dinilai dari cara terbang burung sendiri memang sampai saat ini saya belum menemukan adanya pengaruh “sapit urang” sama gaya terbang burung. akan tetapi untuk masalah turun sepertinya berpengaruh besar. ketebalan dan kuatnya “sapit urang” pun juga mempengaruhi turunnya merpati. seperti contoh ; merpati dengan “sapit urang” rapat (tidak berjarak sama sekali / ”ganthet”) biasanya kalau burung mempunyai kemampuan turun, turunnya akan pelan. merpati dengan “sapit urang” berjarak sempit, kira 0,5-1cm (untuk burung merpati berukuran besar). 0,5cm (untuk merpati berukuran sedang) kalau burung mempunyai kemampuan turun, turunnya akan megal-megol / goyang-goyang.

Merpati dengan jarak “sapit urang” kira2 >1cm kalau burung mempunyai kemampuan turun, akan turun dengan “anteng”/tidak goyang2, tentunya juga didukung ukuran “brutu” dan bentuk ekornya. kondisi “sapit urang” yang bengkok sejauh pengalaman saya : dulu saya pernah punya burung dengan jarak “sapit urang” kira2 1cm, sebelum “sapit urang” bengkok burung mampu turung cepat dan shoot kasar, karena shoot terlalu keras, burung turun “ngebrok lemah”. kemudian salah satu “sapit urangnya” patah, setelah menjalani perawatan beberapa minggu “sapit” nyambung tapi bengkok sebelah. sejak saat itu burung tersebut masih mampu turun hanya kecepatan turun dan shootnya berkurang.

Pinggang / Brutu
Perbedaan ukuran dan jarak dari pinggang / ”brutu” merpati tentunya tidak mungkin bila tidak mempunyai pengaruh apa2 pada kinerjanya. dari yang berukuran besar, kecil, sedang, berjarak rapat ataupun yang berjarak renggang. kalau dari pengalaman, pinggang berjarak renggang dari badannya akan membuat burung tidak memiliki keseimbangan yang bagus.

Burung dengan kecepatan turun lambat, tentunya tidak akan terlihat dengan jelas ketidakseimbangannya dengan adanya pinggang seperti ini. berbeda dengan burung yang kemampuan kecepatan turun tinggi / keras, jika memiliki pinggang renggang seperti ini akan terlihat jelas saat burung turun arah jam 12.00/atas kepala. kemungkinan pertama turun burung akan patah/ separuh jalan berbelok. kemungkinan kedua burung turun dengan kecepatan tinggi tanpa adanya keseimbangan pengereman, akibatnya burung akan turun dengan keras ( yang berakibat menyakiti diriny sendiri).

Berbeda dengan pinggang yang berjarak rapat, baik yang besar maupun yang kecil memiliki kelebihan sendiri-2. dengan perkakas lain yang mendukung, burung dengan “brutu” kecil rapat, akan memiliki tipe turun “anteng” tidak goyang2. burung dengan “brutu” besar rapat, akan memiliki tipe turun tampak goyang2, bila semua perkakas mendukung sebenarny goyang2 nya itu merupakan seni lemparan tubuh burung ”nggenjot2″ saat turun.

Ekor
Ketebalan dan bentuk ekor saat burung kita pegang tentunya akan bermacam2, dari sinilah kita sebenarnya dapat mengira2 daya dan gaya turun dari burung tersebut.

Pilihlah burung yang mempunyai bulu ekor rapat, tebal dan panjang (tebal disini harus disesuaikan dengan pegangan / ”cekelan” burung, u/ kadar ketebalan bulu ekor akan berbeda dari “cekelan” padat /”kiyel”, empuk/ngapuk, keras/rapet/”atos” yang sangat susah u/ di utarakan lewat tulisan) tapi dengan pemilihan dan pembelajaran yang berulang2 pasti kelak dengan mudah kita akan dapat membedakan ukuran yg sesuai.
  • saat kita pegang bulu ekor akan tampak menyatu, itu ciri dari “brutu” kecil, biasanya bentuk ekor seperti ini dimiliki oleh burung dengan gaya turun “anteng”. 
  • saat kita pegang bulu ekor akan tampak melebar pada ujungnya tidak mengumpul jadi satu, itu ciri2 dari “brutu” besar, biasanya bentuk ekor seperti ini dimiliki oleh burung dengan gaya turun “nggenjot2″.
  • saat kita pegang ekor merpati pun akan mempunyai daya tekan kebawah yang berbeda2, ada yang “ndlosor”, “ngawet” 45 derajat, dan ada pula yang “ngawet” 90 derajat / ditempat saya biasa disebut dengan “bengkuk”.
u / gaya terbang :
  • bila burung mempunyai pegangan ekor “ngawet” 45 derajat : burung dengan pegangan ekor seperti ini bila dilepas dengan partner yang mempunyai tipe pegangan ekor sama, akan mempunyai gaya lepas / start memutar agak melebar dan tidak beraturan ( kadang start belum tinggi burung sudah menuju kearah tujuan) 
  • bila burung mempunyai pegangan ekor “ngawet” 90 derajat ”bengkuk”: burung dengan pegangan ekor seperti ini bila dilepas dengan partner yang mempunyai tipe pegangan ekor sama, akan mempunyai gaya lepas / start memutar “cekak”, seperti obat nyamuk ( biasanya burung mencapai ketinggian tertentu baru menuju arah tujuan )
  • bila burung mempunyai pegangan ekor “ndlosor”: burung dengan tipe pegangan ekor seperti ini biasanya mempunyai 2 kemungkinan gaya terbang. Yang pertama terbang langsung menuju arah tujuan. yang kedua “nggandeng”/ ngikut partnernya.
Kaki
Kalau soal kaki saya lebih suka kaki yang merit, garing / terlihat “mbesisik” & panjang ( baik kaki maupun jarinya ) saat dipegang posisi kaki menjorok / mendorong kebelakang sejajar dengan arah ekor.

https://www.facebook.com/Merpati.Balap.Indonesia

Tingkah laku merpati
 
– Suara kepakan sayap
bila kita mau memperhatikan suara kepakan dari sayap burung merpati, tentu dari merpati yang satu dan lainnya akan berbeda. apa sebenarnya yang membuat suara kepakan ini kian berbeda ? ya, memang suara kepakan dari burung yang sudah jadi / terbang tinggi dan belum jadi / masih latihan ternyata memang berbeda. apalagi dengan burung merpati yang sama sekali belum latih terbang (umbaran)
  • kepakan sayap burung merpati yang sudah terbang akan terdengar lebih ringan ( teratatak ) kira2 begitu, kalau sudah terbang dan tinggi, di sela2 kepakannya ada suara seperti (wis.. wis..) 
  • sedangkan sayap burung merpati yang belum folsir terbang / jarang terbang akan terdengar lebih berat (tjeplak-tjeplak)
Memang kalau tanpa mengamati dengan seksama dan berulang2 akan tampak susah membedakan suara kepakan ini.

– Cara turun
saat kita belanja di pasar, tentu akan banyak pedagang yang sibuk menawarkan merpati dagangannya, kalau saya saat membeli sering mengamati dari jarak yang agak jauh, melihat para pedagang menawarkan burung2 yang dijajakannya pada calon pembeli, biasanya burung ini (burung giring) akan diperlihatkan giringnya dengan cara betina di naik turunkan kurungan, nah inilah kesempatan kita menilai mental si burung tersebut !
 
Kalau kita mau mengamati, cara turun burung dari kurungan itu akan bermacam2. ada yang melompat dengan mengepakkan sayap, ada yang langsung turun menjatuhkan tubuhnya (ada yang dengan posisi kepala di depan, ada pula yang dadanya di depan). ya, untuk mental burung, burung yang menjatuhkan tubuhnyalah yang memiliki mental untuk turun. bukan merpati yang turun kurungan dengan cara melompat dengan mengepakkan sayapnya.

Akan tetapi cara itu hanya bisa di pakai untuk memperkirakan kemampuan mental turunnya, bukan kemampuannya untuk turun. karena untuk kemampuan turun masih diperlukan perangkat2 lain yang memadai ( tulang leher, sapit urang, pinggang, dll )

– Cara Jalan
banyak dari penggemar burung merpati tidak lagi memperdulikan cara jalan dari burung merpati ini. memang cara jalan burung hanya bisa digunakan untuk memperkirakan malas dan tidaknya burung, meski hanya sedikit orang yang mempercayai, semoga pendapat ini bisa sedikit bermanfaat bagi sesama penggemar yang menginginkan burung merpatinya adalah merpati yang rajin dan tidak malas terbang. saat burung berjalan, coba kita amati telapak kakinya, napak (menyentuh tanah) atau tidak. biasanya burung merpati yang berjalan hanya menapakkan keempat jarinya (tanpa telapak kakinya) akan mempunyai kemampuan terbang yang lebih panjang / lama dari pada burung yang menapakkan telapak kakinya saat berjalan.

Anda tidak percaya ? coba buktikan sendiri dengan burung yang mempunyai segala baik pegangan dan lain2 yang sama, dan perkiraan umur yang sama, latihan yang sama, pakan yang sama, dengan jalan yang berbeda seperti diatas. saat burung sudah sama2 jadi / hafal lapak / rumah, terbangkan burung berulang kali dan burung mana yang mempunyai ketahanan terbang paling baik diantara keduanya ? burung mana yang lebih dulu lelah/”ngenduk”/hinggap di sembarang tempat ?

– Penampilan
setelah melihat cara berjalan dari burung merpati, tidak salah bila kita melihat keunggulan burung merpati dari bentuk tubuhnya saat berdiri. burung yang berdiri terlihat punggung & pinggangnya menyembul / tampak “berpunuk” tentu akan mempunyai kemampuan terbang dan turun yang berbeda dari burung yang mempunyai bentuk tidak seperti itu. biasanya sayap burung akan tampak menggantung. bila kita melihat merpati dengan bentuk tubuh seperti itu, ada kemungkinan burung ini mempunyai gaya terbang dengan speed kencang dan kemampuan turun yang patut diperhitungkan.
 
– Waspada
saat burung kita lepas di luar kandang, bila kita mau memperhatikan tentu pandangan dan gerak-gerik kepala burung merpati ini akan mempunyai gaya yang berbeda. ada yang hanya diam terlihat cuek dengan keadaan sekitar, ada pula yang tampak waspada dan gesit mengikuti gerakan2 disekitarnya, baik gerakan didekatnya ataupun gerakan dari kejauhan. burung dengan tingkat kewaspadaan tinggi patut kita perhitungkan kemampuan penglihatannya.

– Gerak bulu ekor
saat kita memilih burung merpati, baik di pasar maupun di peternak, tidal ada salahny kita memperhatikan pergerakan bulu ekor merpati tersebut saat bekur.
  1. ekor burung saat bekur yang mempunyai kecepatan “megar-mingkup”/ bulu2 ekornya merapat dengan cepat (dilihat dari samping), biasanya dimiliki oleh burung yang mempunyai pinggang rapat dan ini sangat mempengaruhi kemampuan turunnya. 
  2. ekor burung yang selalu “megar”/terlihat jarak2 dari bulu ekornya (dilihat dari samping), Akan mempunyai kemampuan turun yang kalah baik bila dibandingkan dengan tipe pertama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel